Keagungan Bulan Rajab

Memasuki tanggal 1 Mei 2014 berarti telah memasuki bulan Rajab.

Apa itu Rajab?
Kata Rajab menurut bahasa artinya “Keagungan.”

Dinamakan Rajab karena itu adalah bulan untuk yarjubu, yakni Ya’zhumu (mengagungkan), sebagaimana dikatakan Al Ashmu’i, Al Mufadhdhal, dan Al Farra’. (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif, Hal. 117. Mawqi’ Ruh Al Islam).

Bulan Rajab adalah salah satu bulan dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu bulan yang dimulaiakan oleh Allah SWT sebagaimana tersebut dalam Qur’an Surat At Taubat ayat 36 yang artinya :

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyirkin semuanya sebagiamana mereka pun memerangi kaum semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan ada empat bulan yang dimuliakan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Rasulullah saw ketika haji wada (haji yang penghabisan) berkhutbah pada hari Nahr (Hari Qurban) sebagai berikut :

“Sesungguhnya zaman itu beredar seperti geraknya pada hari Allah menciptakan tujuh langit dan bumi. Satu tahun itu dua belas bulan. Dari dua belas bulan itu ada empat bulan yang dimuliakan, tiga berurutan yaitu Dzul’qadah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan Rajab bulannya Bani Mudhor yang jatuh anatara Jumaditsani dan Sya’ban.”

Lalu bagimana menyambut bulan Rajab ini? Adakah do’a khusus untuk menyambutnya?
Tidak ditemukan riwayat yang shahih tentang ini. Ada pun doa yang tenar diucapkan manusia yakni:
Allahumma Bariklana fi rajaba wa sya’ban, wa ballighna ramadhan, adalah hadits dhaifi (lemah).

Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata:

“Allahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Sya’ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.”

Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan.
(HR. Ahmad, No. 2228. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, “Wa Balighnaa fii Ramadhan.” Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3654)

Lalu adakah pengkhususan ibadah di bulan ini?
Banyak manusia meyakini bulan Rajab sebagai bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, dan menyembelih hewan untuk disedekahkan. Tetapi, kebiasaan ini nampaknya tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam, bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan ibadah lainnya pada bulan Rajab.

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Benar, bulan Rajab adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian amalan khusus pada bulan Rajab. Wallahu A’lam.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213).

Lalu jika ada yang berpuasa di bulan ini, bagaimana?
Tidak mengapa puasa pada bulan Rajab, seperti puasa senin kamis dan ayyamul bidh (tanggal 13,14,15 bulan hijriah), sebab ini semua memiliki perintah secara umum dalam syariat).

Dan bagaimana jika ada yang menyembelih di bulan ini?
Tidak mengapa dilakukan.

Imam An Nasa’i meriwayatkan, bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, dahulu ketika jahiliyah kami biasa menyembelih pada bulan Rajab?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اذبحوا لله في أي شهر كان

“Menyembelihlah karena Allah, pada bulan apa saja.”
(HR. An Nasa’i, hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 1/208)

Kemudian, apa keutamanaan bulan ini?
Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Ta’ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.

Di dalam mengagungkan bulan Rajab, maka Allah SWT melarang kaum Muslimin untuk melakukan peperangan, sebgaimana tersebut dalam firman Allah SWT sebaga berikut: “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) mengenai peperangan di bulan haram. Katakanlah bahwa peperangan di bulan haram itu adalah dosa besar.” (Durratun nasihin 1: 310).

Mereka bertanya mengenai perang di bulan haram itu boleh atau tidak? Maka Allah menyuruh nabi agar menjawab bahwa peperangan pada bulan haram itu merupakan dosa besar. Dan perbuatan khianat di bulan ini lebih jelek dari pada bulan lain. Orang Arab Jahiliyyah pun mengakui adanya bulan yang dimuliakan tersebut, mereka ketahui dari ajaran Nabi Ibrahim. Namun mereka sering melanggarnya dengan melakukan peperangan pada bulan haram tersebut.

Apabila peperangan anatar mereka sedang berlangsung dan bulan haram masuk, mereka sulit untuk menghentikan peperangan itu. Bulan haram mereka pindah ke bulan lain sehingga mereka ubah bulan-bulan haram yang telah ditetapkan oleh Allah ke bulan lain atau mereka tambah jumlah bilangan bulan dalam satu tahun menjadi tiga belas atau empat belas bulan sekedar untuk memenuhi nafsu peperangannya. Sehingga  dengan demikian bertambah kafirlah mereka.

Orang Arab Jahiliyah mengagungkan dengan mengadakan acara yang disebut “Rajabiah.” Dalam acara Rajabiah tersebut mereka isi dengan kegiatan:

  1. Para penjaga pintu Ka’bah membuka pintu Ka’bah selama bulan Rajab. Padahal pada bulan lain, pintu Ka’bah hanya dibuka dua kali dalam seminggu yaitu tia hari Senin dan kamis saja. Alasan mereka membuka pintu Ka’bah selama bulan rajab karena bulan Rajab adalah bulan Allah, rumah ini rumah Allah, dan hamba ini adalah hamba Allah. Maka hamba Allah tidak dilarang masuk ke rumah Allah dalam bulan Allah.
  2. Mereka melakukan puasa.
  3. Pada sepuluh hari pertama mereka memotong qurban ‘Atirah (hewan qurban yang dipotong pada sepuluh hari pertama bulan Rajab) sebagai persembahan untuk Tuhan mereka dalam rangka mendekatkan diri kepada  Tuhan-Tuhan mereka. Tradisi memotong hewan qurban ‘Atirah ini dilakukan pula oleh orang-orang Islam, namun kemudian dinash/ dihapus sebagimana tersebut dalam Sabda Nabi saw: “Tidak boleh menyelenggarakan Fara’ dan ‘ Atirah.” (Durratun Nasihin 1: 315)

Sumber:
Kegungan Rajab dan Sya’ban penulis Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari
http://muslim.or.id/bahasan-utama-2/keutamaan-bulan-rajab.html