SEMARAK RAMADHAN UNDIP

Semarak Ramadhan Universitas Diponegoro pada tanggal 23 Februari 2026 dihadiri oleh Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E. selaku Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia. Kedatangan Wakil Menteri Haji dan Umrah ini disambut dengan hangat oleh Rektor dan Segenap pengurus Takmir Universitas Diponegoro. Pada kegiatan Semarak Ramadhan yang diadakan oleh Masjid Kampus Universitas Diponegoro ini, Beliau Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E secara khusus diundang untuk mengisi tausiyah di Masjid Kampus Universitas Diponegoro. Adapun tema yang diangkat dalam tausiyah ini yaitu “Ramadhan Sebagai Ruang Tumbuh Spiritual Generasi Muda”. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan Puasa merupakan dimensi spirutualisme bagi kaum muslim yang beriman, puasa adalah jalan untuk menempuh spiritualisme mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ada beberapa hal yang menjadikan puasa sebagai dimensi spiritual dalam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, antara lain yaitu :

  1. Puasa Melatih Muraqabah (Kesadaran Diawasi Allah)
    Saat berpuasa, kita bisa saja makan atau minum di tempat yang tersembunyi tanpa ketahuan manusia. Namun, kita tidak melakukannya. Mengapa? Karena puasa menanamkan keyakinan di hati bahwa Allah senantiasa mengawasi (Muraqabah). Kesadaran spiritual inilah yang menjadi inti ketaqwaan—ketakutan dan rasa cinta kepada Allah yang mencegah kita berbuat dosa, baik saat ramai maupun sepi.
  2. Puasa sebagai Pengendalian Hawa Nafsu (Penyucian Jiwa)
    Puasa bukan hanya puasa perut, tetapi juga puasa hati dan pikiran. Kita dilatih menahan emosi, menjaga lisan dari ghibah, dan menjauhi maksiat. Ini adalah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Ketika hawa nafsu fisik dikekang, ruhani manusia akan menjadi lebih kuat dan lebih sensitif terhadap petunjuk Allah.
  3. Puasa Meningkatkan Keintiman dengan Allah (Komunikasi Spiritual)
    Di bulan puasa, kita lebih giat beribadah: salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, zikir, dan sedekah. Puasa mengalihkan fokus kita dari hal-hal fisik ke hal-hal spiritual. Ini menciptakan ruang bagi kita untuk lebih dekat dengan sang Pencipta, menjadikan ibadah bukan lagi beban, melainkan kebutuhan spiritual untuk menenangkan jiwa.
  4. Puasa Mengasah Kepedulian Sosial (Empati)
    Secara spiritual, puasa mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan mereka yang kekurangan. Hal ini menumbuhkan rasa syukur dan solidaritas sosial, yang merupakan bagian integral dari ketaqwaan, yaitu menjadi hamba yang bermanfaat.