[Enlightenment Reflection]
Ketika Berdebat dengan Orang Tua
Jika ditanya, ingin ikut pilihan sendiri atau orangtua? Kita biasanya akan menjawab, “Ya tentu saya memilih pilihan sendiri. Kan orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih.”
Tapi, walau orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih, orangtua tetap akan mendapatkan imbas atas apa yang kita pilih, ya kan? Jika kita memilih menjadi seorang pencuri, bukankah orangtua juga akan merasakan malunya? Jika kita memilih tinggal di tempat yang jauh, bukankah sulit bagi orangtua jika mereka ada masalah? Jika kita memilih calon istri yang tidak pengertian, bukankah orangtua kita juga yang akan mengalami ketidaknyamanannya?
Maka perlu dipahami, bahwa orangtua itu bukanlah penentu pilihan, tapi orangtua adalah tempat kita berdiskusi karena mereka adalah bagian dari pilihan hidup kita.
Setiap orang tua punya 1 prinsip yang sama, ingin memberikan yang terbaik agar kita bahagia. Coba ingat kembali, ketika kita masih kecil, ketika kita belum bisa mencari nafkah atau berfikir, bukankah orangtua kita harus memutar otak untuk memberikan yang terbaik bagi kita? Bukankah orangtua kita bolak-balik mencari sekolah mana yang baik untuk diikuti? Bukankah orangtua kita berpikir keras menentukan makanan apa yang bisa masuk ke dalam tubuh kita? Bukankah orangtua kita memutar otaknya untuk menentukan pakaian apa yang harus kita gunakan? Waktu kecil, kita ikut dengan semua pilihan orangtua kita, dan kita percaya pilihan orangtua kita adalah yang terbaik menurut mereka.
Namun, kadang orangtua lupa bahwa anaknya tumbuh dewasa dan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Orangtua merasa masih memiliki, sehingga ia berhak untuk menentukan pilihan hidup sang anak.
Seringkali, banyak anak berdebat dengan orangtua tentang pilihan hidupnya. Dan seringkali berujung dengan pertengkaran hebat atau sang anak menjalani kehidupan tapi tanpa menikmatinya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, tujuan orangtua menentukan pilihan hidup, adalah agar anaknya bahagia. Lalu kenapa bisa berdebat? Itu karena perbedaan pandangan terjadi pada “cara mencapai kebahagiaan” tersebut. Orangtua dan kita kadang tidak paham, bahwa bagi cara mencapai kebahagiaan setiap orang itu berbeda.
Contohnya, bagi sebagian orangtua, menjadi PNS adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Mengapa? Lihat saja, gaji tetap, resiko di PHK sangat kecil, dan akan mendapatkan pensiun. Berbanding terbalik dengan anak-anak milenial sekarang, yang justru ingin memiliki waktu bebas, bisa bergaul, mencari tantangan, tidak terkukung di kantor dan diam. Urusan uang, itu bisa dikompromikan, selama hidupnya tidak mengikuti aturan baku. Itulah kebahagiaan versi sang anak.
Perbedaan versi kebahagiaan inilah, yang menyebabkan perdebatan yang sengit. Padahal tujuannya sama, kita ingin sama-sama bahagia. Namun akar masalahnya adalah, orangtua, ingin menjalani “bahagia” versinya, dan kita juga ingin menjalani bahagia versi kita.
Maka, satu-satunya cara untuk bisa menentukan dan tidak ada pihak yang merasa kalah ataupun menang, adalah dengan cara menyatukan pandangan.
Anak harus tahu, kenapa orangtua memilihkan pilihan tersebut bagi sang anak. Dan setelah itu, anak juga harus bisa menjelaskan kepada orangtua, kenapa ia memilih pilihan tersebut. Orangtua harus diberi pemahaman, bahwa kondisi hidup yang kita pilih ini telah dipilih berdasarkan pemikiran yang matang dan panjang, bukan pilihan yang asal-asalan belaka.
Jika masih ada penolakan, maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan, yakni memastikan bahwa kita mampu menjalani pilihan sendiri. Penolakan selalu terjadi karena orangtua tidak percaya bahwa anaknya bisa menjalani pilihan hidup yang ia pilih.
Maksudnya?
Ya, bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi pengusaha sukses, kalau di rumah, untuk bangun pagi saja susah, komunikasi dengan orangtua saja jarang, beres-beres rumah saja ogah. Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya bisa sukses dengan melajang lebih lama kalau misalnya sehari-hari saja hidupnya tidak teratur dan berantakan. Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi atlet bola profesional kalau sehari-hari mainnya bola bekel?
Itulah alasan terbesar kenapa orangtua menolak pilihan hidup yang kita ajukan. Maka jika kita sudah menjelaskan semuanya dan tidak diterima, perbaikilah diri! Mungkin diri kita belum baik, mungkin sikap kita belum bisa membuat orangtua kita percaya. Karena sesungguhnya, orangtua tidak akan pernah khawatir akan pilihan anaknya, ketika anaknya memang sudah menampakkan kedewasaan atas kehidupannya.
Via : Choqi Isyraqi
#enlightmentreflection
#maskamundip
~nyaman bersama maskam~