Memuji Atau Dipuji

[Enlightenment Reflection]

MEMUJI dan DIPUJI

Memuji makhluk itu bisa benar atau salah, bisa menyemangati atau merusak. Sedang memuji Khaliq itu benar, menyelamatkan, berpahala, dan menambah nikmat.

Cara memuji yang paling indah adalah dengan mendoakan.
Cara mencela yang paling mulia adalah dengan memberi teladan berkebajikan.

Kurang dzikir mengagungkan Allah membuat kita suka memulia-muliakan diri,
Kurang syukur atas karunia Allah membuat kita suka menghebat-hebatkan diri.

Dipuji orang bukan jaminan baiknya kita. Memuji diri lebih sering menunjukkan bahwa diri ini hina. Celaanpun hakikatnya masihlah pujian jika aslinya diri lebih mengerikan.

Lima dari enam huruf dalam PUJIAN adalah UJIAN, hanya sedikit yang lulus dengan menghayati bahwa “Segala puji HANYA bagi Allah, Rabb Semesta Alam.”
Sedikit yang dapat dipelajari dari pujian, hinaan justru lebih banyak hikmahnya. Menyedikitkan bercerita tentang pujian yang kita terima, akan membubarkan dengki dan mewajarkan kagum.

Pesan Imam Asy Syafi’i: “Jika ada yang memujimu atas apa yang tiada padamu saat senangnya, jangan terkejut kalau dia juga mencelamu atas yang tiada padamu saat marahnya.” ‏Ada doa kala dipuji sebagaimana Abu Bakr Ash Shiddiq konon suka membacanya:

اللهم اجعلني خيرا مما يظنون
ولا تؤاخذني بما يقولون
واغفر لي ما لا يعلمون
“Ya Allah; jadikan aku lebih baik dari sangkaan mereka, jangan siksa aku sebab pujian mereka, dan ampuni pada cela yang mereka tak mengetahuinya.”

Via : @salimafillah
#EnlightenmentReflection
#AlFatihGen2
#MaskamUndip

Masjid Kampus Undip
~Nyaman Bersama Maskam~