[Enlightenment Reflection]
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan mata ini. Ketika terlahir aku sungguh buta hingga usia dua bulan perlahan Allah memberikan nikmat berupa seberkas cahaya yang samar-samar terang ku pandang. Dan tak lama kemudian aku mulai bisa mengenali sesosok wajah yang tak pernah lama jauh beranjak dariku, ya, ibuku.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan telinga ini. Ketika dalam kandungan aku bisa mendengar suara ibuku yang sering mengajakku berbicara. Dan ayah yang tak henti memanggil dan memancingku agar aku bergeral hingga ayah dapat merasakan tendanganku. Hingga hari dimana aku lahir, ketika suara yang pertama aku dengar adalah suara dokter yang memberi selamat atas hadirnya diriku ini. Lalu gak lama kemudian berkumandanglah adzan di telingaku dari suara berat seorang pria yang ku kenal sebelumnya saat dalam kandungan, ya, ayahku.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan lidah ini. Ketika aku mencecap air ketuban dan ketika aku mulai beranjak besar untuk dapat membedakan berbagai varian rasa dan ekspresi dari setiap rasa tersebut yang aku amati dari sekelilingku. Senyum untuk rasa manis. Menikmati rasa asin. Dahi berkerut rasa asam. Bibir terkatup rasa pahit. Lidah terjulur rasa pedas. Ah ya, pedas itu iritasi, bukan rasa.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan bibir ini. Ketika aku menangis kedinginan saat didekap dinginnya udara dunia setelah sembulan nyaman di rahim ibuku. Ketika aku pertama kali bergumam mengisyaratkan yang ku mau namun belum mampu berkata-kata. Ketika aku baru bisa meneriakkan ‘mama’ hingga ketika aku mampu bersosialisasi dengan banyak orang, bertukar kata dan sapa. Atau berbicara didepan ratusan orang.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan tangan ini. Ketika pertama kali aku mampu menyikut perut ibuku saat aku aktif bermain di alam kandungan. Saat tangan mungilku bisa menggenggam erat jemari ibuku. Saat tanganku ini ku pergunakan untuk menulis paragraf demi paragraf ini.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan kaki ini. Ketika pertama kali tercipta namun tak ku sadari adanya. Hingga aku belajar tertatih berjalan. Hingga aku berlari-lari kegirangan dalam hujan saat aku kecil. Atau ketika aku berlari bahagia melihat pantai. Atau beratnya langkah ini menuju kebaikan.
Aku sering lupa bagaimana Allah menyempurnakan seluruh tubuh dan organ ini. Hingga aku mampu mencerna, memuntahkan, membuang, mengeluarkan gas. Atau bagaimana otakku berpikir. Atau bagaimana darahku mengalir. Atau bagaimana aku berkeringat dan buang air kecil.
Aku sering lupa. Aku lalai. Aku sering mengeluh. Aku lupa bersyukur.
Allah, aku sering lupa akan nikmatmu yang tiada tara. Aku sering lupa untuk menggunakan berbagai anugerah dan menukarnya dengan berkah.
Allah, ampuni aku.
Via : Rizky Ajeng Andriani