Notulensi Tabligh Akbar Ngaji Bareng TGB “Mulia Bersama Al-Quran”

Ngaji Bareng TGB

“Mulia Bersama Al-Qur’an”

Pembicara : Dr. Muh. Zainul Majdi, Lc,. MA

Salah satu nama AL-Quran itu Ad dzikru yang sering diartikan sebagai peringatan( dzikir) juga berarti kemuliaan. Jadi ketika Allah SWT menyebutkan bahwa nama salah satu Al-Quran itu Ad Dzikru maka sesungguhnya didalam firman Allah SWT itu ada pelajaran bagi kita semua, bagaimana menggapai kemuliaan hidup. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf ayat 44Artinya : Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab “

Dari banyaknya nama-nama dan sifat-sifat Al-Quran yang disebutkan dalam Al-Quran oleh Allah SWT, para ulama hanya menyepakati 5 nama. Satu diantara adalah Adz-Dzikru. Mengapa demikian ?.

Karena di dalam nama Adz-Dzikru itu ada gambaran tentang transformasi yang luar biasa yang dibawa oleh Al-Quran. Bagaimana masyarakat yang sebelumnya tidak pernah dikenal didalam catatan-catatan sejarah. Tidak pernah menghasilkan sesuatu yang bermakna besar bagi kemanusiaan. Bertransformasi menjadi peradaban yang menginspirasi hingga berabad-abad kemudian. Bahkan pun pada masa peradaban islam tengah surut. Tetap saja ada inspirasi-inspirasi besar dari peradaban islam bagi umat manusia

Dulu dikisahkan sebelum datangnya Rasulullah, Anak-anak Arab yang kecil-kecil jika ditanya

“ Apa cita-citamu nak ?” oleh orang tuanya. Maka cita-cita yang paling tinggi dari anak-anak Arab pada waktu itu adalah menjadi seorang ahli syair (sastrawan) yang karya puisinya bisa digantung diatas ka’bah/di dinding ka’bah. Ketika Rasulullah SAW datang yang kemudian membawa tuntunan Allah SWT yang ada di dalam Al-Qur’an, Maka berubahlah cita-cita itu.

Jika kita melihat tulisan-tulisan para ulama. Mulai dari bapak sosiolog pertama yang dikenal dan diakui sebagai bapak sosiologi yaitu ibnu Khaldun sampai pada kajian-kajian kontemporer tentang tuntunan Al-Quran yang bisa menghadirkan kemuliaan dalam kehidupan

Ternyata Jawabannya adalah karena Al-Quranlah factor yang paling penting didalam tumbuh dan berkembangnya elemen-elemen utama dalam peradaban.

Salah satu elemen utama dalam peradaban itu adalah pilar keilmuan, menurut ulama jika dihimpun semua kalimat yang memiliki makna ilmu dan derivasinya, keilmuwan, membangun etos ilmiah, dan menghadirkan semangat untuk membangun peradaban keilmuwan terdapat tidak kurang dari 1500 disebutkan dalam Al-Quran.

Jika kita lihat dari wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW di gua Hira yaitu surat Al- Alaq ayat 1-5. Lima ayat tersebut penuh dengan makna kecintaan Allah SWT kepada keilmuwan. Ada dua kali kata Iqro disebutkan dari 5 ayat tersebut. Ada dua kali kata “” yang berarti mengajarkan dan disebutkan 1 kata yang menunjuk kepada instrumen pendidikan yaitu al-kalam yang bisa diartikan pena atau jika kita kaitkan dengan saat ini maka bisa diartikan seperangkat komputer. Inilah yang ditangkap oleh Rasululah SAW dan keilwunan inilah yang ditempuh oleh Rasulullah untuk menghadirkan kemuliaan bagi umat islam.

Begitu jalan ini kita tinggalkan, maka jangan heran kalau sekarang wajah umat itu berubah.

Dulu ada hadiah Nobel , dibuat oleh sebuah komite di Swedia , dalam ranah scientific nama-nama siapa yang ada di Nobel itu ?. kita beralasan bahwa itu disebabkan karena yang membuat penghargaan itu adalah orang eropa.

Kemudian Arab Saudi membuat bentuk penghargaan sendiri, Nobel ala Arab yang namanya Malik Faisal Prize, dengan kredibilitas yang tinggi , melibatkan ilmuwan-ilmuwan dunia. Kemudian apa yang terjadi ? tetap saja yg mendapatkan Malik Faisal Prize di dalam ranah-ranah Sains adalah saudara- saudara kita yg kebetulan non muslim.

Jadi jika kita meningalkan jalan-Nya, maka kita tidak akan sampai pada kemuliaan. Nabi Muhammad SAW selalu menghadirkan Ilmu pengetahuan dan semangat keilmuwan di dalam diri umat. Bahkan Rasulullah SAW membuat kreasi-kreasi yang menarik. Ketika terjadi perang badar yang dimenangkan oleh kaum muslim, Orang Quraisy yang menjadi tawanan perang bisa dibebaskan apabila ditebus dengan uang sekian dinar. Namun jika sang tawanan tersebut tak bisa membayarnya, Rasulullah memberikan tawaran untuk mereka agar masing-masing dari mereka mengajari 10 anak madinah membaca dan menulis, sehingga mereka bisa bebas. Ini menandakan bahwa Beliau ingin secepat-cepatnya ilmu didapat dan diserap oleh umat dengan berbagai cara. Maka kemudian lahir umat yang hebat yang kemudian disebut sebagai Khairu al-nas qarni. Sebaik-baik umat, sebaik-baik generasi adalah generasiku. Itu semua di sebabkan karena etos keilmuwan yang tumbuh begitu luar biasa dimasa Rasulullah SAW.

lalu ketika saat ini kita ingin mencari dan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan maka jalannya sederhana  yaitu , tempuhlah jalan yang dilakukan Rasulullah SAW yaitu jalan ilmu pengetahuan. Dekati Al-Quran dengan pendekatan bahwa Al-Quran menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan kita.

Banyak kita dengar ilmuwan-ilmuwan hebat, ketika mereka berinteraksi dengan Al-Quran, maka kemudian mereka mendapatkan hidayah. Artinya apa ? menurut bahasa ulama itu sebabnya karena Al-Quran itu adalah cahaya wahyu dari Allah SWT yang melengkapi, memperkuat dan memperkokoh cahaya akal dan cahaya fitrah yang ada dalam diri kita. Ketiga cahaya itulah yang membentuk keutuhan potensi manusia.

Kita lihat sekarang di kampus-kapmus muncul semangat untuk kembali kepada Al-Quran. Namun yang perlu di ingat bahwa kembali kepada Al-Quran, jangan hanya dimaknakan kegairahan untuk memulai menghafal, Membaca saja, Mengapa ?

Membaca Al-Quran dengan baik itu kemuliaan, Menjadi penghafal Quran itu lebih – lebih lagi kemuliaanya, tetapi berupaya memahami hidayah-hidayah Al-Quran, tuntunan-tuntunan dalam Al-Quran dalam kehidupan, memahami pesan-pesan Al-Quran dalam Aspek Ekonomi,dalam aspek hukum, dalam aspek pemerintahan, dalam aspek social,dalam aspek hubungan kemanusiaan, memahami semua pesan-pesan  itu adalah sesempurna-sempurna kemuliaan.

Maka ketika kita mulai banyak kajian tentang Al-Quran mari kita menggunakan Metode yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bahwa seorang sahabat menceritakan kepada muridnya bagaimana nabi Muhammad SAW menghadirkan kemuliaan Al-Quran dan menginternalisasikan kepada diri para sahabat.

Dari Abi Abdurrahman as-Sulami,bercerita kepada muridnya ia berkata : “Ketika Nabi Muhammad SAW menjadi murrobi/pendidik/guru kami (para sahabat). Setiap saat ketika Rasulullah SAW mengajar, yang beliau lakukan adalah mengajarkan kepada kami 10 ayat Al-Quran. Dan kami tidak melewati 10 Ayat itu sampai benar-benar tuntas. Maka kami hafalkan 10 ayat itu, kami pahami maknanya lalu kami belajar mengamalkan tuntunan-tuntunannya. Sekali belajar kami mendapat 3 keberkahan yaitu Menghafal, memahami dan mengamalkan”

Mudah-mudahan kita bisa belajar dan harapan dari kita kepada generasi umat isalm adalah “ Smart “

Pelajari, pahami nilai-nilai dan tuntunan Al-Quran dalam seluruh aspek kehidupan dan implementasikan dengan cara yang terbaik pada setiap tantangan dan kondisi yang ada. Maka arahkan energy itu pada arah yang tepat. Jangan sampai kita merasa kita kembali kepada Al-Quran tapi kita baru kembali pada kulit-kulitnya saja, kita merasa sudah selesai kewajiban kita pada Al-Quran ketika kita sudah membacanya 1 surah setiap hari, atau satu juz setiap hari. Dan kita bilang “ Ya Allah ,nih .. hari ini aku sudah selesai membaca Al-Quran 1 juz, aku sudah selesai menjalankan kewajibanku.. !

Jangan sampai seperti itu….

mari kita arahkan pada apa yang di katakan oleh Abdurrahman as-Sulami ; “ ……kami belajar 10 ayat, lalu dari 10 ayat itu kami baca terus sampai hafal, lalu  kami pahami maknanya, lalu kami amalkan tuntunan-tuntunannya”

Wallahu a’lam

Cetak Artikel/Halaman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *