Tentang Syukur dan Kufur

[ENLIGHTENMENT MORNING]

“Tentang Syukur dan Kufur”

Manusia, telah menjadi nalurinya, senantiasa ingin memperoleh apa yang ia inginkan, apa yang ia cita-citakan. Namun, hidup kadangkala tidak berjalan sesuai dengan rencana dan kehendak.

Maka bagaimana sikap seorang muslim ketika ia sedang berada pada titik terendahnya? Bersyukur atau kufur? Dan bagaimana pula ketika ia sedang berada di puncak keberhasilannya, bersyukur atau kufur?

Perihal bersyukur, rasanya tidak ada alasan kita untuk tidak bersyukur.

Karena kesempatan hidup yang sama sekali tidak pernah kita minta ini adalah sebuah pemberian dari Allah. Tak hanya diberi hidup, segala fasilitas untuk hidup pun Dia disediakan untuk hamba-Nya. Kemampuan melihat, mendengar, merasa, dan seterusnya. Hal-hal yang jika kita harapkan kepada selain-Nya, tidak akan ada satu pun yang mampu memberikannya. Hal-hal ini yang seringkali tidak kita sadari.

Lalu ketika kita menemui masalah, musibah, keterpurukan, atau hasil usaha yang tidak sesuai harapan, percayalah di sana Allah menyimpan hikmah dan pembelajaran untuk kita. Boleh jadi, Allah sedang mempersiapkan diri kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita harapkan.

Atau boleh jadi, Allah hendak menyadarkan kita agar kembali mengingat-Nya. Menghindarkan diri kita dari lalai yang berlarut-larut. Karena memang seolah sudah menjadi tabiat manusia, bahwa barulah ia sadar untuk berdoa dan ingat Tuhannya ketika merasa dirinya terancam bahaya dan sudah tidak punya daya. Sungguh, betapa baiknya Allah pada kita.

Kemudian tentang hasil, semua adalah ketetapan-Nya. Bukan meniadakan esensi usaha, akan tetapi memang segala sesuatu di alam ini telah diatur oleh-Nya dengan seluas-luas ilmu tentang semesta. Wilayah manusia bukanlah dalam perkara berhasil atau tidak. Maka yang dihisab oleh Allah bukan berhasil atau tidaknya usaha kita, tetapi bagaimana cara kita mengusahakannya, halal atau haramkah. Serta bagaimana sikap kita terhadap keberhasilan yang didapat atas izin Allah tersebut, bersyukur atau justru kufur.

Maka ketika kita menemui kegagalan dan kekalahan, berbaik sangkalah kepada Allah. Husnudzan bahwa Allah menginginkan kita untuk tidak menjadi sombong atas keberhasilan atau kemenangan tersebut. Dan ketika kita mendapatkan keberhasilan atau pencapaian-pencapaian, bersegeralah insyafi bahwa keberhasilan tersebut sejatinya adalah pemberian dari Allah. Ucapkan terimakasih serta syukur, agar benih-benih takabur dapat sedalam-dalamnya terkubur.

—————————————————-
Line : @maskamundip
FB : Masjid Kampus Undip
Ig : Maskam Undip
YouTube : Maskam Undip Channel

#EnligtenmentHeart
#AlFatihGen3
#MaskamUndip

Masjid Kampus Undip
*Nyaman Bersama Maskam*

Cetak Artikel/Halaman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *