BUBUR BAYI

[Enlightenment Reflection]

Dalam suatu kisah, seorang sahabat nabi kedatangan tamu jauh. Waktu yang tidak tepat. Bukan karena sang sahabat ini sedang sibuk atau akan pergi ketempat lain yang karenanya tdk dapat menerima tamu.

Bukan, bukan karena itu. Tapi karena didapur rumah sahabat ini tidak ada satupun yang tersisa. Sejak tiga hari ini keluarga itu kelaparan. Dapurnya tak mengebulkan asap satu satunya yang tersisa adalah bubur encer untuk bayinya.
Maka perdebatan kecil terjadilah didapur. Sang ibu berpendapat bahwa mereka harus memperhatikan kesehatan bayi mereka. Apalagi yang tersisa hanyalah bubur encer. Kalau diberikan kepada sang tamu pun, bubur itu tidak dapat mengenyangkan. Sedangkan jika diberikan kepada si bayi, akan sangat bermanfaat. Sementara si bapak, disisi lain, berpendapat lebih ingin mendahulukan sang tamu.

Cukup lama mereka saling melempar argumentasi.
Namun akhirnya disepakati bahwa mereka lebih memilih untuk memuliakan tamu. Meski sudah sepakat, mereka masih bingung. Bagaimana cara menghdangkan bubur itu kepada sang tamu? Kenapa? Sebab buburnya sangat encer. Tidak pantas jika dilihat.

Sementara, itu adalah makanan satu-satunya yang tersisa yang dapat dihidangkan. Kemudian, jika bubur itu dihidangkan dan hanya satu piring maka akan terkesan janggal. Hanya tamu yang makan sementara tuan rumah tidak menemani makan. Padahal tak mungkin , dari bubur sejumlah itu dipecah menjadi dua piring.
Tapi akhirnya sang bapak mendapat ide, yakni mematikan lampu saat bubur itu dihidangkan.

Maka setelah berbincang-bincang, sang bapak mengeluarkan hidangan dan langsung mematikan lampu. Sambil mempersilahkan sang tamu makan, ia pun berpura-pura seperti sedang makan. dalam keadaan gelap tidak diketahui jenis makanan dan jumlahnya. Sang tamu yang lapar, makan dengan lahap, yang ditemani tuan rumah. Akhirnya ia pulang dengan perasaan senang. Sang tamu dihormati dan dijamu dengan baik oleh sang kepala keluarga, meski dia tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi.
Betapa sang bapak telah mengoebankan satu-satunya bubur encer untuk bayinya, demi sang tamu. Suatu pengorbanan yang tiada tara demi menghormati tamu.
Inilah kualitas iman. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamu.

#EnlightenmentReflection
#AlFatihGen2
#MasjidKampusUndip

~Nyaman Bersama Maskam~

Cetak Artikel/Halaman
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *